SHARE
balap sepeda 2013

BIKESTREAK – Haruskah kita menelan kenyataan bahwa pembalap Indonesia kurang berjaya di Tour de East Java? Sebagai orang normal mungkin perlu berkata “ya”. Tetapi salah besar jika harus berkecil hati melihat prestasi atlet yang tak bisa berbuat banyak melawan pembalap asing.

Dalam even terbesar kompetisi balap sepeda seperti Tour de France, Giro de Italia dan Vuelta a España pun juga terjadi hal serupa. Tak banyak pembalap Prancis yang menorehkan nama sebagai juara TdF. Pemenang Giro yang berasal dari Italia pun dapat dihitung (jika mau menghitung), demikian juga dengan La Vuelta.

Kesuksesan penyelenggaraan kompetisi adalah suatu hal yang berdiri sendiri, dan kemenangan pembalap merupakan hal lain lagi. Tour de East Java haruslah dipandang dari banyak sisi. Setidaknya penyelenggaraan kompetisi tour yang konsisten seperti ini akan membuat dunia balap sepeda tanah air tetap hidup dan berkembang. Di lain sisi juga sebagai sarana promosi bagi provinsi Jawa Timur. Dengan diselenggarakannya kompetisi tour yang berkelanjutan, nama Jawa Timur diharapkan bisa lebih terdengar.

Ini bukan perkara kecil. Di tengah muncul kabar kurang baik tentang TdEJ (seperti minimnya pendanaan dan sedikitnya etape yang dilombakan), penyelenggaraan TdEJ yang terbukti berjalan dengan optimal akan menjadi pembelaan terhadap berita tersebut.

Memang, penyelenggaraan tour ini belum banyak mendapat liputan dari media. Hal ini mungkin saja indikasi bahwa even ini belum banyak memberikan manfaat sebagai sarana promosi pariwisata yang efektif. Semoga hal esensial ini akan mendapat jalan keluar oleh penyelenggara kompetisi tour tahun depan.

Terlepas dari beberapa kekurangan disana-sini, tak ada salahnya jika kita perlu mengapresiasi keberhasilan penyelenggaraan TdEJ tahun ini. Kita juga patut memberikan apresiasi pada semua stake holder yang telah berkontribusi atas berjalannya Tour de East Java 2014.

LEAVE A REPLY