SHARE
bike round the city

BIKESTREAK – Meneruskan aktivitas bersepeda saat bulan Ramadhan memang terasa berat, terlebih saat dilakukan siang hari dibawah terik sinar matahari bersama macetnya jalanan di kota-kota besar. Sebenarnya ibadah puasa tak harus menghetikan aktivitas bersepeda maupun olahraga lain. Hanya perlu mengurangi ‘takaran’ dan tubuh akan beradaptasi sedikit demi sedikit.

Saat hari biasa dimana tidak menjalankan ibadah puasa, kita perlu minum saat jeda mengayuh sepeda. Cadangan air dalam tubuh memang harus diganti secara berkala setiap 15 menit sekali. Hal ini tentu tidak bisa dilakukan bagi biker / b2w-er yang sedang menunaikan ibadah puasa. Namun kita tak perlu memarkir sepeda dirumah terus selama bulan Ramadhan berjalan.

Bagi yang biasa menjalankan aktivitas bike to work apalagi work by bike silahkan melanjutkan terus, terlebih bagi yang jarak dan tujuan masih dalam batas standar. Yang perlu dilakukan saat berbuka puasa cadangan air yang mulai terkuras perlu diganti lebih banyak dan saat saur juga perlu menenggak air lebih banyak untuk cadangan saat berolahraga di jam-jam puasa berlangsung. Selain air, jumlah karbohidrat dalam tubuh juga perlu ditambahkan, jadi kita perlu makan sedikit lebih banyak (bukan berlebihan) saat saur dan berbuka. Bagi yang berbadan tambun tak perlu melakukan diet khusus, namun hal ini juga bukan berarti bebas makan semaunya.

Kurangi Takaran Bersepeda

Saat berpuasa kita perlu mengurangi takaran dalam bersepeda. Kurangi laju dan durasinya. Jika biasanya mengayuh pedal sekitar 1,5 jam, sekarang menjadi 1 jam saja (bukan lagu Zaskia). Sprint juga tak perlu dilakukan berlebihan. Melaju dengan kecepatan standar juga akan menghemat stamina dalam tubuh tidak cepat terkuras. Jika biasanya dapat melaju sekitar 30 km/jam, turunkan menjadi 20-25 km/jam. Jika banyak memaksa melakukan sprint akan banyak kalori yang terkuras.

Saat mengayuh sepeda dalam kecepatan rendah ± 60 rpm pedal / crank tubuh menghabiskan sekitar 900 kalori (posisi transmisi bukan pada posisi paling berat).  Makin kencang mengayuh pedal makin banyak kalori yang dihabiskan dan cadangan air yang makin terkuras. Apalagi jika dilakukan pada siang hari. Panasnya matahari tentu membuat keringat lebih cepat keluar.

mahasiswi penjual takjil
gadis penjual takjil, entah iseng atau memang mencari penghasilan

Tak perlu mengandangkan sepeda saat bulan Ramadhan tiba, dengan bersepeda kita bisa mengamati pemandangan khas bulan Ramadhan seperti ramainya penjual takjil, terutama dikota-kota dimana banyak pelajar. Banyak mahasiswi yang juga ikut menjual takjil, mungkin sekedar iseng.

Akan lebih nyaman jika aktivitas bersepeda dilakukan saat sore hari. Selain tak begitu tersengat terik matahari, kita bisa menyaksikan pemandangan yang tak biasa seperti ramainya penjual takjil di pinggir jalan, bahkan beberapa diantaranya merupakan mahasiswi-mahasiswi yang iseng menjual takjil (bukan gadis penjual korek api). Saat aktivitas gowes selesai juga berdekatan datangnya maghrib. Kitapun bisa langsung mengganti cairan dan karbohidrat yang terkuras tentu dengan takaran yang tak berlebih, karena segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.

LEAVE A REPLY